PENDAKIAN DI GUNUNG SEMERU 3676 MDPL 2021
Mahameru. Mendengar namanya saja sudah membuat darahku berdesir. Ia bukan sekadar tumpukan batu dan tanah tertinggi di Pulau Jawa; ia adalah legenda, sebuah ujian spiritual yang memanggil setiap jiwa petualang. Dan akhirnya, setelah berbulan-bulan persiapan dan menanti kuota booking yang legendaris itu, aku dan tiga temanku berdiri di depan gerbang Ranu Pani.
Hari 1: Pelukan Dingin Sang Dewi Danau
Perjalanan dimulai. Jeep Hartop yang membawa kami dari Tumpang meraung-raung, menembus lautan pasir Bromo sebelum akhirnya tiba di Ranu Pani (2.100 mdpl), desa terakhir di kaki Semeru. Udara dingin langsung menyergap. Setelah registrasi yang ketat, kami mengucap doa dan memulai langkah pertama.
Trek awal masih terasa ramah, meliuk-liuk di antara hutan yang teduh. Namun, ransel seberat 18kg di punggungku mulai terasa. Empat jam berjalan, tanjakan dan turunan kami lahap satu per satu, hingga akhirnya... sebuah keajaiban visual terbentang.
Ranu Kumbolo (2.400 mdpl).
Aku terdiam. Danau itu lebih indah dari foto manapun yang pernah kulihat. Airnya tenang, memantulkan langit biru pekat. Kami bergegas mendirikan tenda. Sore itu kami habiskan dengan membuat kopi hangat, memandangi danau, dan merasakan suhu yang mulai anjlok drastis.
Malamnya adalah siksaan pertama. Suhu mencapai 3°C. Jaket thermal dan sleeping bag tebal terasa tak cukup menahan dingin yang menusuk tulang. Kami tidur (atau lebih tepatnya, mencoba tidur) dengan gelisah, tak sabar menunggu fajar.
Hari 2: Menuju Gerbang Puncak
Pukul 05.00 pagi, aku merangkak keluar tenda. Langit di ufuk timur merekah. Matahari perlahan muncul dari balik bukit, sinarnya mengubah permukaan Ranu Kumbolo menjadi permadani emas. Embun beku (frost) tipis melapisi tenda kami. Pemandangan itu membayar lunas malam yang beku.
Setelah sarapan, kami menghadapi tantangan ikonik: Tanjakan Cinta. Konon, jika mendakinya tanpa menoleh ke belakang sambil memikirkan orang yang kita cintai, cinta itu akan abadi. Aku tak tahu soal mitos itu, yang aku tahu hanyalah nafasku terengah-engah di kemiringan 45 derajat itu.
Di baliknya, terhampar Oro-oro Ombo, padang sabana luas yang dipenuhi bunga Verbena ungu (jika sedang musimnya). Rasanya seperti berada di negeri dongeng.
Perjalanan berlanjut melewati Cemoro Kandang dan Jambangan, hingga akhirnya kami tiba di pos terakhir: Kalimati (2.700 mdpl). Ini adalah padang datar yang kering, gerbang terakhir sebelum puncak. Puncak Mahameru yang gundul dan berpasir tampak begitu dekat, namun begitu angkuh, menjulang di depan mata kami.
Sore itu kami habiskan untuk mengambil air di Sumber Mani—sebuah perjuangan turun-naik ke mata air tersembunyi—dan memasak porsi besar. Pukul 18.00, kami semua sudah masuk tenda. "Tidur!" kata ketua tim kami. "Pukul 11.30 malam kita bangun."
Hari 3: Neraka Pasir dan Surga di Puncak
Alarm berdering di tengah malam buta. Udara terasa seperti ribuan jarum es menusuk kulit. Dengan tangan gemetar kedinginan, kami memakai semua perlengkapan summit: 4 lapis baju, headlamp, sarung tangan tebal, dan gaiter untuk menahan pasir.
Pukul 00.15, kami mulai berjalan dalam gelap. Hanya ada barisan cahaya headlamp di depan dan belakang kami, seperti kunang-kunang yang merayap lambat ke angkasa. Kami melewati Arcopodo, batas vegetasi terakhir.
Lalu, siksaan sesungguhnya dimulai.
Medan berubah total menjadi lautan pasir vulkanik murni. Kemiringannya brutal. Ini adalah "neraka pasir" yang terkenal itu. Aku merasakan frustrasinya: maju tiga langkah, kaki terperosot dan merosot satu langkah. Maju lima langkah, merosot tiga.
Oksigen terasa menipis. Setiap langkah butuh upaya luar biasa. Kepala mulai pusing ringan, tanda altitude sickness mulai menyapa. Dinginnya membuat jari-jari kaki mati rasa.
"Aku nggak kuat," bisik temanku di belakang, suaranya putus asa. "Bisa! Istirahat 10 detik, jalan lagi 10 langkah. Jangan berhenti!" teriakku, lebih untuk menyemangati diriku sendiri.
Pikiran untuk menyerah berkali-kali meracuni otak. Aku melihat ke atas, puncaknya tampak tak pernah lebih dekat. Aku melihat ke bawah, barisan lampu headlamp masih panjang. Ini adalah perang mental.
Setelah hampir 5 jam berjuang di pasir, langit mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi nila, lalu jingga. Dan akhirnya, aku melihat batas antara pasir dan langit.
Pukul 06.10, dengan sisa tenaga terakhir, aku menggapai Tugu Puncak Mahameru.
Aku roboh. Aku menangis. Bukan tangis sedih, tapi tangis haru, lega, dan syukur yang meledak di dada. Kami berhasil! Kami berdiri di 3.676 meter di atas permukaan laut, dataran tertinggi di Pulau Jawa.
Pemandangannya membayar segalanya. Matahari terbit sempurna di timur. Di barat, bayangan segitiga raksasa Gunung Semeru membentang megah di atas lautan awan yang menutupi Kota Malang. Dan di depan kami, Kawah Jonggring Saloko bergemuruh, setiap beberapa menit menyemburkan asap abu vulkanik—sang Wedhus Gembel—mengingatkan kami siapa pemilik gunung ini sebenarnya.
Kami hanya punya waktu 30 menit di atas sana, menghindari gas beracun yang mungkin terbawa angin.
Hari 4: Kepulangan Sang Pemenang
Turun dari puncak adalah urusan cepat, meski menyiksa lutut. Kami meluncur di trek pasir, tiba di Kalimati dengan perasaan lega luar biasa. Setelah makan dan istirahat sejenak, kami membongkar tenda dan memulai perjalanan panjang kembali.
Kami menginap satu malam lagi di Ranu Kumbolo, kali ini dengan perasaan yang berbeda. Rasanya seperti berpamitan pada seorang sahabat lama.
Keesokan harinya, langkah kami menuju Ranu Pani terasa ringan, meski kaki sudah lecet dan badan pegal semua. Saat kami tiba kembali di Pos Perizinan Ranu Pani, rasanya seperti terlahir kembali.
Kami pulang tidak hanya membawa foto-foto indah. Kami pulang membawa pelajaran tentang batas kekuatan fisik, tentang persahabatan yang teruji di titik terendah, dan tentang kerendahan hati.
Mahameru telah menaklukkan kesombongan kami, dan sebagai gantinya, ia mengizinkan kami berdiri di puncaknya, walau hanya sejenak.
Komentar
Posting Komentar